LOVE, TAEYEON PART 9

Title : Love, Taeyeon (With all the emotions he has)

Maincast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, Marcia G. Harden,

Andrew G. Harden, Luke Harden, Robert Hudson, Harold Burke,

Felliza Brown, Ajhuma Kim Young Ae Etc.

Author : Eirene Kim

Genre : Random

“Hope you like my stories and can apreciate them. Please vote or comment ‘Cause if you do it. It can be my Vitamin and spirits to make a nice stories. Thankyou”

***

“Mommy.. lusa aku akan pergi ke Italia untuk bertemu dengan tuan Christian..” Taeyeon berucap kepada Tiffany, saat ia akan merebahkan dirinya di atas kasur.

“Berapa hari sayang?” Tiffany menjawab sambil mengoleskan body-lotion di lengannya, dan sesekali membersihkan wajahnya menggunakan pembersih wajah.

“Kemungkinan sepuluh hari..”

“Itu lama sekali dad.. kapan kau ambil cuti dan berlibur bersama aku dan juga Wendy?” Tiffany telah selesai, dan berniat ikut masuk di selimut yang sama dengan suaminya.

“Setelah urusan-ku selesai di Italia. Kita akan pergi ke Thailand atau kemana-pun yang kalian mau..”

“Really?”

“Yes.. sure..”

“Call..”

***

“Hati-hati dad.. jangan menggoda gadis seksi disana” Tiffany dan Wendy mengantar Taeyeon ke bandara untuk terbang ke Italia. Keberangkatannya sebentar lagi.

“Aku tidak akan tergoda dengan wanita disana, karena kau sudah tercantol dihati-ku sayang..” Taeyeon mengecup bibir istrinya dengan lembut, lalu beralih kepada Wendy dan mencium putri semata wayang mereka.

“Cepat pulang dad.. lalu kita main lagi dipantai” Wendy mencubit hidung ayahnya dan meminta ayahnya agar segera pulang, anak menggemaskan ini terus memeluk ayahnya seperti koala yang terus menempel di pohon bambu. Susah terlepas.

“Kau tidak ingin sesuatu dari Italia?” Taeyeon bertanya kepada Wendy namun anak itu hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berucap, “Aku hanya ingin daddy cepat pulang, dan kita main bersama dipantai. Hanya itu saja”

“Okey, setelah daddy pulang dari sana kita berlibur ke Thailand”

“Yagsok?”

“Ne.. yagsok”

“Horaaay!”

“Nah anak pintar sekarang kau turun, pesawat daddy sebentar lagi akan terbang..” Taeyeon mulai menurunkan Wendy, namun kaki anak itu tidak mau terlepas dari pinggang ayahnya. Ia tidak mau ayahnya cepat pergi.

“No!…” Bocah itu mengeratkan pegangannya terhadap Taeyeon, dia tidak menginginkan ayahnya pergi. Tiffany yang melihat hal itu hanya tersenyum dan menenangkan putrinya, lalu menasehatinya. Ini hal yang wajar, anak seusia Wendy memang sedang sangat manja kepada orangtuanya. Tiffany mengambil Wendy lalu menggendongnya, anak itu sedang meraung dan menangis dengan keras, dan terus meracau.
Tiffany menyuruh Taeyeon untuk segera pergi, biarkan dia yang mengurus Wendy.
Taeyeon melangkah dengan langkah yang berat, tidak tega melihat anaknya meracau seperti itu. Dia sadar bahwa dirinya sangat sibuk dengan pekerjaan hingga jarang berkumpul bersama keluarganya, melihat Wendy bersikap manja dan ingin diperhatikan dan Taeyeon jarang sekali memberikan hal itu, membuat dirinya seperti orangtua yang amat jahat. Dia menengok sekali lagi, dan Wendy masih menangis digendongan Tiffany. Rasanya dia ingin kembali dan membatalkan kepergiannya, tapi dia tidak bisa, jadi dia terus melanjutkan jalan dan mulai hilang dibalik ramainya orang-orang di bandara.

“Hey sayang… dengarkan mommy.. daddy hanya pergi sebentar” Tiffany menghapus airmata Wendy dengan sayang dan merapihkan kembali poni anaknya yang acak-acakan, dia menenangkan anak itu yang masih menangis sesegukkan.

“Nanti kalau daddy pulang, kita akan pergi ke pantai bersama-sama..” Tiffany masih menghapus airmata yang terus keluar dari pelupuk mata Wendy, dan terus berucap, berharap Wendy berhenti menangis.

“Aku mau daddy!..” anak itu kembali menangis dan malah lebih keras.

“Ssshh.. please, don’t cry baby.. kau tidak malu di lihat orang-orang.. kamu sudah besar tidak boleh menangis seperti itu..”

“Aku mau daddy!..”

“Sini Tiff.. berikan pada-ku” seseorang berucap lalu mengambil Wendy dari gendongan Tiffany. Dia adalah Luke, sepupu Taeyeon.

“Ayo kita beli es krim dan bermain komedi putar. Apa kau mau?” Luke melangkah pergi, dan Tiffany membuntutinya dari belakang.

“Aku mau daddy.. samchon” Wendy kembali menyebutkan ayahnya.

“Daddy-mu hanya pergi sebentar, dan kuharap dia tidak kembali lagi kesini..” Luke mengucapkan hal itu dan membuat Wendy menangis kembali, Tiffany menyubit pinggang laki-laki itu, dan menyuruhnya untuk berhenti berbicara tentang Taeyeon. Luke tidak membantu sama sekali.

“Aww.. Tiff.. kenapa kau menyubit pinggang-ku?”

“Kau berucap sesuatu perihal Taeyeon didepan Wendy. Bagaimana jika dia mengadu kepada ayahnya?” Tiffany memutarkan matanya, dia mulai bosan.

“Jika anak ini mengadu kepada ayahnya. Aku hanya akan membenarkannya.. lalu berkata kepada Taeyeon bahwa aku mencintai istrinya” Luke mengecup pipi Tiffany dan memasang wajah damai dihadapan Tiffany.

“Jika kau berani berbicara hal seperti itu didepan Taeyeon. Ku jamin kita berdua akan mati ditangan Taeyeon”

“Aku tidak peduli..”

“Sudahlah… ayo cepat jalan dan jangan banyak bicara”

“Siap nyonya Luke Harden..”

***

Tiffany sedang mendekorasi perabotan yang baru ia pesan dan di bantu oleh yang lain. Kemarin ajhuma datang dari Korea atas perintah Taeyeon. Pikirnya dari-pada harus mencari yang lain dan susah untuk beradaptasi, ia lebih memilih membawa ajhuma kerumah baru.
Tiffany menyuruh tukang untuk meletakan sofa nya didepan televisi dan perabotan yang lainnya dengan sempurna.

“Bagaimana ajhuma?” Tiffany meminta pendapat ajhuma perihal pilihan warna sofa dan juga cat dinding yang ia pesan sendiri.

"Bagaimana ajhuma?" Tiffany meminta pendapat ajhuma perihal pilihan warna sofa dan juga cat dinding yang ia pesan sendiri

“Ini bagus nyonya. Warna klasik dan juga nyaman di lihat..”

“Apa kau lelah?.. perjalan Korea – New York sangat melelahkan, kau tahu.. belum lagi jetlag membuatmu pusing”

“Tidak nyonya.. ini pengalaman saya naik pesawat, di tambah lagi perjalanannya sangat jauh pula. Aku takut ketinggalan dipesawat tadi, tapi pramugari muda tadi menenangkan-ku. Dan rasa khawatirku sedikit hilang..”

“Waktu aku kecil, aku juga mengalami hal seperti itu..” Tiffany tertawa lepas.

Saat mereka berdua tertawa, Taeyeon keluar dari kamar dan menghampiri Tiffany. Pria itu baru bangun dari tidurnya. Ini hari sabtu, jadi dia tidak perlu pergi ke kantor.

“Pagi ajhuma..” laki-laki itu mengucak matanya yang masih berat karna kantuk.

“Pagi tuan..” ajhuma menundukan kepala memberi hormat kepada Taeyeon.
Lalu Taeyeon, dia beralih kepada Tiffany dan memeluknya lalu mencium ceruk leher istrinya yang membuatnya sangat kecanduan dengan harum wangi tubuh istrinya.
Ajhuma melangkah mundur dan pergi dari pasutri yang sedang di mabuk asmara. Tidak ingin mengganggu keduanya.

“Kau harum sekali..” Taeyeon terus mengendus leher istrinya, seperti anjing yang sedang mencari sesuatu, dan akan senang apabila sudah menemukannya. Ia menghisap pelan, dan Tiffany merasakan gelenyar yang luar biasa saat Taeyeon menjilatnya dan meremas payudaranya yang masih terbungkus baju berbahan sifon itu.

“Ya.. aku harum dan kau bau..” Tiffany menjawab dengan suara tersendat, dia ingin menyudahi pagi panas ini, karna malu banyak mata yang sedang memperhatikan mereka dari sudut-sudut rumah.

“Pergi mandi sana.. aku akan menyiapkan sarapan untukmu..” Tiffany mendorong Taeyeon ke kamar mandi mereka, tapi Taeyeon malah menarik Tiffany untuk masuk kedalam kamar mandi juga.

“Tae.. aku sudah mandi, aku ingin membuat sarapan..”

“Sssshhh.. kan sekarang sudah ada ajhuma jadi tidak perlu lagi membuat sarapan.. kau mandikan aku saja..”

“Oh my God.. kau tidak perlu menggigit-ku!”

“Tapi kau merasa senang bukan?”

***

“Mmm…” Sepasang sejoli sedang memadu kasih dan hasrat diatas kasur berukuran luas. Mereka saling melumat, mengigit dan membelit satu sama-lain.
Yang satu menjilat dan yang lain memekik senang.

“Sshh.. sebelah situ Luke.. ah yaaa..” Tangannya menekan kepala Luke agar lebih dalam menelusuri dirinya, dan ia sudah mulai gila karna sentuhan-sentuhan yang mengalirkan listrik di sekujur tubuhnya. Luke sangat ahli ketimbang Taeyeon dalam hal ini.

“Uh.. jangan berhenti.. ah..yes..” Tiffany, dia sedang menarik-narik seprai kasur agar rasa nikmat ini segera digantikan oleh yang lain. Dia menginginkan Luke untuk masuk kedalam dirinya.

“Tiff.. apa kau siap?” Luke mencium bibir Tiffany dan menjilat leher ibu beranak satu itu.

“Yes.. hurry-upp.. oh Godness…” Tiffany melengkungkan dirinya saat Luke mulai memasuki dirinya secara perlahan.

“Oh sh*t.. kamu masih terasa sempit.. Tiff” Luke mulai memaju-mundurkan tubuhnya terhadap Tiffany. Mereka telah menyatu. Saling menggerang dan dengan nafas terengah-engah. Surga seperti ada di sekeliling mereka.
Tiffany menarik Luke agar menciumnya dan menarik tangan laki-laki itu agar menyentuh payudaranya.
Luke melepaskan dirinya dari  Tiffany, menyuruh wanita itu agar berbalik dan  menungging. Dia memasukan kembali dirinya kepada Tiffany. Menggoyang dirinya lebih cepat dan berharap bisa sampai puncak dengan khidmat.

“Apa yang kalian lakukan?!”

 

To Be Continued

Advertisements

17 thoughts on “LOVE, TAEYEON PART 9

  1. Yaa ampun ppany dimasa lalu….pantas aja tae murka
    Walaupun cuma flashback tpi gue skit hati ma ppany…. slut gue ama tae yg masih mw bertahan

    Like

  2. Lah apa apaan ini wkwkwkwkw kau mengotori mata ku tiff kata tak aahahahaha. Bawa santai readers jangan pada emosi yaaa. Nikamtin aja ceritanya. Walaupun gue belum baca cerita sebelumnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s