LOVE, TAEYEON PART 6

Title : Love, Taeyeon (With all the emotions he has)

Maincast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, Marcia G. Harden,

Andrew G. Harden, Luke Harden, Robert Hudson, Harold Burke,

Felliza Brown, Ajhuma Kim Young Ae Etc.

Author : Eirene Kim

Genre : Random

“Hope you like my stories and can appreciate them! Please vote or comment cause if you do it, It can be my Vitamin and give me spirits to make a nice stories. Thankyou ^^”

***

“Dimana Tiffany?”, seorang Kim Taeyeon bertanya kepada para pembantunya dirumah, ia bergegas kekamar untuk melihat Tiffany, namun tidak ada.

“Nyonya muda sejam yang lalu pergi, tuan. Beliau bilang katanya pergi untuk mengunjungi seorang teman..”, Dae Ji pembantu paling muda berbicara kepada Taeyeon dan menjelaskan kemana perginya Tiffany.
Lagi-pula ini masih sore dan Taeyeon sudah kembali kerumah, tidak biasanya konglomerat kembali kerumah pada sore hari, seperti sekarang ini. Biasanya dia akan menghabiskan waktu seharian sampai dengan pukul sembilan malam dikantor.

“Apa setiap hari Tiffany di jam-jam seperti ini pergi keluar rumah?”, Taeyeon kembali bertanya menegaskan kemana perginya Tiffany.

“..tidak tuan”, Dae Ji kembali berucap.

“Baiklah.. aku akan menghubungi Tiffany.., kalian boleh pergi”.

Dae Ji dan para pembantu lain pergi mengundurkan diri dari hadapan Taeyeon, dan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing.
Dae Ji pergi menemui Ajhuma Young Ae, ia ingin memberitahukan perihal Taeyeon yang menanyai keberadaan nyonya muda mereka.

“Imo-ya.. “, Dae Ji berucap pelan memanggil wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman dihalaman belakang.

“..Imo-ya.. aigoo”, Dae Ji akhirnya menghampiri Ajhuma yang sedang fokus menyirami tanaman. Dan fokus wanita paruh baya itu akhirnya teralihkan saat Dae Ji menepuk lengan kanannya.

“Ada apa?”,

“Barusan tuan mencari nyonya muda..”, Dae Ji berucap pelan.

“Oh.. tinggal bilang saja nyonya muda pergi menemui temannya”, Ajhuma kembali menyirami tanaman lalu berpikir kembali, “Tunggu, jam berapa sekarang? Tuan Kim sudah sampai? Tidak seperti biasanya..”.

“..itu dia, aku juga heran..”, Dae Ji menaruh tangannya didagu dan berpikir.

“Dari pada kau bingung, nah ambil ini lalu lanjutkan.. Aku ingin membangunkan nona muda untuk mandi”, ajhuma menyerahkan slang air itu kepada Dae Ji dan berlalu masuk kedalam rumah.
Ajhuma memasuki rumah besar itu dan menuju ke kamar Wendy. Ia membangunkannya dengan sangat lembut, gadis itu mengingatkan dirinya pada cucunya yang berada jauh bersama orangtuanya.

“Agashi.. ireona..”, Ajhuma membangunkan Wendy dengan lembut, anak itu terlalu lelap dan enggan membuka kedua matanya. Saat ajhuma masih terus membangunkannya ia hanya melenguhkan beberapa kata seperti ‘Sebentar aku masih ingin tidur’. Namun dengan kelembutan yang dimiliki Ajhuma membuat gadis berpipi chubby itu akhirnya bangun.

“Ayo kita mandi sore dulu.. Ayah-mu sudah pulang..”, Ajhuma menggendong anak itu lalu menuju ke kamar mandi.

“Daddy sudah pulang?”, kesadaran anak itu pulih sepenuhnya setelah ia mendengar bahwa ayahnya sudah pulang.

“Ya.. dan sekarang kau mandi dulu,  baru setelah itu kau bisa menemui ayah-mu”,

“Horay…”

***

“Daddy…”, Wendy berlari kecil menuju ruang ayahnya. Mendengar suara lembut putri semata wayangnya Taeyeon mengalihkan perhatiannya dari ponsel.

“Jangan lari sayang, nanti kau terjatuh”, Taeyeon menangkap putrinya lalu menggendongnya, ia menciumi pipi anak itu dan mereka tertawa bersama.

“Daddy sudah pulang? Apa kita akan pergi keluar?”,

“Seharusnya begitu.. tapi mommy-mu belum pulang. Apa kau tahu kemana mommy pergi?”,

“Mommy pergi dengan Luke samchon. Hanya itu yang kutahu..”,

“Daddy sudah menghubungi mommy-mu tapi tidak ada jawaban. Apa kita pergi berdua saja?”, Taeyeon bertanya pada Wendy namun layaknya anak-anak ia hanya menganggukan kepalanya dengan cepat. Kegirangan.

“Pantai?”, Wendy langsung mengucapkan keinginannya dengan to the point.

“Boleh juga..hmmm, tapi kita akan menghabiskan waktu lama hanya untuk diperjalanan. Apa kau yakin? Tanpa mommy-mu?”

“Tidak boleh. Kalian hanya ingin pergi berdua tanpaku?”, suara lain menyahut.

“Mooommy..”, Wendy turun dari gendongan ayahnya dan beralih kepada ibunya.

“Hai Daddy..”, Tiffany mengambil Wendy lalu berjalan menghampiri suaminya dan mengecup pipinya.

“Kau darimana? Aku menghubungi-mu tapi tidak ada jawaban. Apa kau pergi kencan dengan seseorang?”, Taeyeon merengut terhadap istrinya. Oh lihatlah Taeyeon merajuk seperti Wendy.

“Kau ini bicara apa sih.. mana mungkin aku pergi berkencan. Aku menemui Sooyoung dan juga suaminya..”, Tiffany terkekeh, terkadang sikap pencemburu suaminya sangat menggemaskan.

“Aku hanya khawatir..”

“Aku tahu.. sudahlah, ayo bersiap- siap, katanya kita akan pergi ke pantai”, Tiffany berjalan kekamar mereka dan menyiapkan keperluan untuk pergi berlibur dihari pekan.

***

“Come on.. Mom and Dad!”, Wendy berlari diatas pasir pantai, kegirangan. Anak itu suka sekali dengan pantai.
Sementara itu Taeyeon dan Tiffany hanya menertawakan anaknya yang sangat menggemaskan.

“Anak itu lucu sekali..”, Taeyeon terus saja tertawa.

“Dia sangat menggemaskan..”, Tiffany menimpalinya.

“Apa kita perlu membuatkan adik untuknya?”, Taeyeon menarik dagu Tiffany, dan menatap mata indah milik istrinya dengan lekat. Ia mencium istrinya dengan lembut dan bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama.

“Kau tahu? Aku sempat bertanya pada Wendy beberapa hari lalu tentang apakah ia ingin seorang adik. Tapi dengan polosnya anak itu menggeleng tidak mau, Dad..”, Tiffany terkekeh, dan mendengar itu lagi-lagi suaminya, Taeyeon merengut.

“Aku akan merayu Wendy agar mau dibuatkan adik. Dan setelah itu aku akan menerkam-mu sampai tidak bisa jalan”,

“Ya! Kau mesum daddy..”, Tiffany secepat yang ia bisa bangkit dan menjauh dari Taeyeon dan lebih memilih mengikuti putrinya. Taeyeon dengan semangat mengejar istrinya sambil tertawa, mereka saling berkejar-kejaran diantara deburan ombak pantai dan dibawah matahari yang kian menenggelamkan dirinya. Senja menyaksikan kebahagian antara Taeyeon, Tiffany beserta anaknya. Mereka terlihat sempurna, dan membuat beberapa orang iri. Mereka sangat bahagia.

***

“Jam segini kau baru pulang?! Darimana saja kau?!”, seorang laki-laki berucap tegas kepada gadis berusia sebelas tahun.

“Aku pergi dengan Stephen, untuk mencari uang dan juga makan!”, gadis itu berucap kesal.

“Oh kau berani berucap seperti itu kepada-ku?!”,

“Lalu aku harus berkata apalagi?! Memang kenyataanya seperti itu. Kau bahkan tidak perduli, hari ini aku akan makan dengan apa! Kerjaanmu-kan hanya berjudi dengan teman-temanmu tanpa memperdulikan aku!”, gadis itu berteriak marah kepada laki-laki dihadapannya. Dengan raut wajah yang memerah dan nafas tersengal, gadis itu cemas, takut apabalia laki-laki dihadapannya akan memukulnya.

“Dasar anak tak tahu diuntung! Pergi ke kamarmu, sialan!”, laki-laki itu mendorong bocah sebelas tahun itu hingga tersungkur, dan pergi berlalu dari hadapannya.

“Ayah macam apa kau!”, gadis itu bangkit dan berjalan tertatih-tatih. Ia memasuki kamarnya dan menangis. Kenapa nasibnya sangat buruk. Ia membenci kehidupannya dan juga Tuhan. Andai saja saat ia memberikan permintaan dan itu langsung terkabul. Ia hanya menginginkan orangtua yang menyayanginya dan selalu memperhatikan dirinya. Hanya itu permintaannya disaat akan pergi tidur.

***

“Tiff.. untuk beberapa bulan kedepan kita akan pindah ke New York. Proyek-ku akan berjalan disana. Persiapkan dirimu..”, Taeyeon berucap kepada Tiffany.

“Apa kita akan menyewa apartement disana nantinya?”,

“Tidak. Aku sudah membeli sebuah rumah disana. Jadi tidak perlu repot untuk membayar sewa apartement nantinya.. sangat merepotkan”,

“Kapan itu?”,

“Dua minggu lagi..”,

Tiffany mengangguk paham, suaminya lebih memilih cara praktis meskipun harus mengeluarkan kocek lebih. Toh sifat Taeyeon memang seperti itu.
Namun dalam pikiran Taeyeon berbeda dengan Tiffany. Ia dengan tiba-tiba dan mengatasnamakan sebuah proyek itu semata-mata hanya ingin mempermudah mencari bajingan yang menurutnya harus segara dihabisi. Dengan cara ini mungkin ia akan berhasil mencapai apa yang dia mau. Dia telah bersumpah pada Tuhan, apabila ia dipertemukan dengan bajingan sialan itu, ia akan menghabisinya tanpa ampun. Itu janjinya, dan akan segera ia tepati.

Dua minggu setelahnya mereka telah sampai di New York, dan menempati rumah baru itu disana. Taeyeon mengambil perumahaan yang cukup asri nan teduh untuk ditempati. Perumahan kalangan kelas elit pastinya.

“Apa kau menyukainya Tiff?..”, Taeyeon memeluk istrinya dari belakang. Mereka sedang berada dibalkon lantai dua sambil menikmati sejuknya sore hari.

“Aku menyukainya..”, Tiffany tersenyum hangat kepada Taeyeon.

“Pasti akan lebih ramai jika ada anak-anak”, Tiffany tiba-tiba menjadi kaku saat Taeyeon menyebutkan kata ‘anak’. Telinganya sangat sensitif mendengar hal itu.

“Ini akibat ulahmu. Jika bukan karena ulahmu, kita tidak akan kehilangan Wendy..”, Taeyeon mengeratkan pelukannya terhadap Tiffany, laki-laki itu mencoba untuk tidak meluapkan emosinya lagi terhadap wanitanya.

Mian.. aku memang bodoh!”, mata itu akhirnya mengalirkan sebulir airmata penyesalan, Tiffany merunduk dan menangis.

“Aku benar-benar bodoh”, Taeyeon membalikan Tiffany dan memeluknya, meski emosi sering kali mengelilinginya, tapi pikirnya sudah cukup untuk menghukum istrinya.

“Aku masih mencari bajingan sialan itu, Tiff! Jika sudah kutemukan. Akan kubawa dia kehadapanmu dan kuhabisi dia dihadapanmu juga! Aku berjanji!”.

To Be Continued

Advertisements

9 thoughts on “LOVE, TAEYEON PART 6

  1. iya ya ya ya aku baru inget,,tadi i juga sempat kepikiran ko mirip yaa sama ff’y godactor ternyata orang yang sama,,aku bukan member si tapi pernah baca,,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s